2020



Jambi, 12 Juni 2020 Konflik lahan antara masyarakat eks Transmigrasi  Desa Pandan Sejahtera, Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan perusahaan sawit PT. Indonusa Agromulia (Indonusa Group) mengakibatkan satu orang warga bernama Muhammad Kasim ditetapkan sebagai tersangka. Fakta ini memperlihatkan pemerintah dan pemerintah daerah tidak serius mengurus konfik yang sudah terjadi selama belasan tahun. Bahkan di atas lahan yang sudah disiapkan sebagai lahan usaha 2 Transmigrasi telah diterbitkan HGU atas nama PT. Indonusa Agromulia (Indonusa Group).

Terbitnya HGU PT. Indonusa tidak pernah diketahui masyarakat.  Secara tiba-tiba  karyawan perusahaan tersebut memperlihatkan photo copy HGU kepada masyarakat.  Sertifikat HGU yang dikeluarkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Tanjung Jabung Timur , berlokasi di Kecamatan Geragai dan tidak menyebutkan lokasi Desa Atau tempat kebun tersebut, berdasarkan daftar isian 307 dengan No 5066/ 2013 dan daftar isian 208 No 4237 /2013, berdasarkan SK Kepala BPN RI Tanggal 26 Agustus 2013 No 87/ HGU/ BPN RI /2013 dan Surat ukur Tanggal 07 November  2013  No 14 / Tanjung Jabung Timur / 2013  dengan Luas 238, 27 Ha  dengan Penunjuk Warkah No . 4237 / 2013  Diterbitkan Sertipikat atas Nama  PT. INdonusa Agromulia pada Tanggal 18 November 2013 oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Tanjung Jabung Timur Rusli Yakob , SH, MH dengan Nomor Sertipikat  00014 . PT.Indonusa Agromulia juga anggota GAPKI.

Terdapat kejanggalan dalam proses penerbitan HGU, karena diduga prosesnya tidak diikuti proses pengecekan lokasi yang akan dijadikan perkebunan kelapa sawit.  Padahal  Subdin PKTP Dinas Naker Transmigrasi Provinsi Jambi  mengeluarkan peta Tata Ruang Lahan Usaha II (LU II) yang bersumber dari peta RTSP Th 1997 dan Peta Pengukuran lahan Pemukiman (LP) dan Lahan usaha I Th 2001, dihasilkan Peta pengukuran Lahan Usaha II (LU II) tahun 2005, Di Desa Pandan Sejahtera Kecamatan Geragai WPP/SKP/SP : XIV/C/I, Lokasi : UPT Lagan Simpang Pandan.

Tidak dilakukannya pengecekan lapangan dan memperhatikan dan data yang diterbitkan oleh Subdin PKTP Dinas Naker Transmigrasi tersebut mengakibatkan HGU bertumpang tindih dengan lokasi persil masyarakat trasnmigrasi Simpang Pandan. Bahkan penguasaannya sudah dilakukan sebelum HGU diterbitkan. Tercatat sebanyak 21 ha lahan usaha II tidak dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat, usaha – usaha untuk mendapatkan lahan ini juga terus dilakukan dan dengan harapan agar lahan usaha II yang belum didapat oleh masyarakat dapat dikelola dan segera diterbitkan sertifikat bagi lahan – lahan yang belum dikeluarkan sertifikatnya dan disesuaikan berdasarkan SK yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah.

Selanjutnya, SK Bupati Tanjung Jabung Timur no : 459 tahun 2016 tanggal 17 oktober tahun 2016 yang tidak pernah dibatalkan memperlihatkan fakta tidak ada pengurangan luas lahan, baik lahan pekarangan  maupun lahan usaha I dan II, dan hal ini menjadi pertanyaan, atas dasar apa PT. Indonusa Agromulia mengolah dan menanam sawit diatas lahan yang sudah dikeluarkan Peta nya dan ditetapkan sebagai lahan usaha II Transmigrasi UPT Lagan Simpang Pandan.

Terkait permasalahan Lahan Usaha II ini, masyarakat sudah melaporakan hal ini ke pemerintahan kabupaten Tanjung Jabung Timur, difasilitasi oleh SEKDA Kabupaten Tanjung Jabung Timur (saat itu Masih dijabat Sudirman)  dengan agenda pembahasan permasalahan lahan ini sudah dilakukan pertemuan antara pihak perusahaan dan perwakilan masyarakat.

Bahkan perwakilan masyarakat juga pernah mengirimkan surat kepada gubernur untuk memfasilitasi pertemuan dan penyelesaian konflik dengan perusahaan. Bertemu dan  berdiskusi dengan Kesbangpol Provinsi Jambi, dan berbagai upaya untuk memperjuangkan bagaiamana lahan usaha 2 Transmigrasi Desa Pandan Sejahtera dapat dikembalikan kepada masyarakat. Masyarakat pun sudah pernah mengirim surat kepada  Presiden hingga Kementrian ATR / BPN, juga kementrian Desa, juga  beberapa instansi lain, sayangnya tidak membuahkan hasil.

Masyarakat yang belum mendapatkan lahan usaha 2 terus berjuang hingga bersepakat untuk menyetop aktivitas perusahaan dan memblokade jalan yang masuk kedalam lahan usaha 2 Transmigrasi, atas aktivitas penyetopan aktivitas  dan blokade jalan inilah masyarakat dilaporkan ke POLRES Tanjung Jabung oleh perusahaan melalui kuasa hukumnya dengan dasar undang – undang no 39 Tahun 2014 Tentang perkebunan.

Dengan segala konsekuensi untuk mendapatkan kembali lahan usaha 2 masyarakat akan tetap menempuh berbagai macam cara, dengan tetap berpegang pada tuntutan awal perjuangan. Terkait hal tersebut masyarakat menuntut:
  1. Kembalikan Lahan usaha II (LU II) warga masyarakat Transmigrasi Desa Pandan Sejahtera yang diserobot oleh PT.INDONUSA AGROMULIA sesuai dengan peta tata ruang trnasmigrasi tahun 2005.
  2. Batalkan HGU PT. Indonusa dan segera terbitkan sertifikat hak milik atas nama masyarakat di lokasi berkonflik. Akhir tahun 2016 kepala Desa Pandan Sejahtera menerima peta tata ruang baru lahan usaha II yang dikeluarkan oleh BPN Tanjung Jabung timur dan sekaligus diinformasikan bahwa sebagian setifikat Lahan usaha II telah terbit dan untuk lahan usaha II yang telah terbit di peta tata ruang yang dikeluarkan oleh BPN Tanjung Jabung Timur di Arsir WARNA HITAM tetapi sertifikat tersebut belum sampai ke tangan  Masyarakat.
  3.  Peta tata ruang  baru Lahan Usaha II di Desa Pandan Sejahtera yang dikeluarkan oleh pihak BPN Tanjung Jabung Timur tahun 2016 tidak sesuai dengan Peta tata ruang transmigrasi tahun 2005. Terkait hal tersebut, maka harus dilakukan pengembalian tata  ruang lahan usaha II sesuai dengan peta tata ruang lahan Usaha II Transmigrasi tahun 2005
  4. Sertifikat Lahan Usaha II masyarakat  Desa Pandan Sejahtera RT 10 dan RT 13 yang diterbitkan BPN Tanjung Jabung Timur tahun 2010 sangat merugikan pemilik hak atas tanah karena luas tanah yang dimiliki tidak sesuai dengan sertifikat tanah. Didalam sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN Tanjung Jabung Timur tahun 2010 luas lahan 45 x 156 M sedangkan dipeta tahun 2005 seluas 45 x225. Kembalikan luasan  lahan usaha II sesuai dengan peta tahun 2005.


Narahubung : Abdullah – WALHI Jambi (0852-6670-3201)




Jambi, 4 Juni 2020. Konflik lahan yang terjadi di Desa Lubuk Mandarsah pada kelompok tani Sekato Jaya dengan Perusahaan Hutan Tanaman Industri PT. Wirakarya Sakti (WKS) Group APP Sinarmas terjadi sejak 2007 sampai sekarang belum terselesaikan dengan baik.

Pada tahun 2007, PT WKS melakukan penggusuran kawasan masyarakat, sebagian merupakan areal produktif pertanian masyarakat. Akibatnya masyarakat mengalami kerugian dari hancurnya areal padi ladang, kebun karet, dan tanaman penghidupan lainnya yang diubah menjadi tanaman akasia HTI PT WKS.

Pada tahun 2013 sebagian masyarakat Desa Lubuk Mandarsah yang tergabung dalam kelompok tani sekato jaya memperjuangkan kembali lahan mereka yang di gusur oleh perusahaan WKS, lahan seluas 1.500 Ha yang menjadi hak masyarakat akan di perjuangkan kembali untuk dikelola menjadi tanaman kehidupan masyarakat. Secara bertahap masyarakat melakukan penanaman tanaman padi, palawija, karet dan tanaman lainnya yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Merespon kondisi tersebut, PT. WKS melakukan berbagai cara termasuk intimidasi kepada masyarakat mencegah masyarakat menanam di lahan/kebun mereka. Puncaknya adalah Februari 2015 dibunuhnya seorang petani sekaligus aktivis bernama Indra Pelani oleh Security PT. WKS dengan cara disiksa, dibunuh, dan dibuang jauh jasadnya dari pemukiman warga. Hasil investigasi WALHI Jambi bersama Koalisi NGO menunjukkan insiden meninggalnya Indra Pelani melibatkan unsur terencana oleh Security PT WKS. Atas peristiwa tersebut, 5 orang pegawai Security PT. WKS ditetapkan sebagai tersangka dan telah dijatuhi hukuman. Selain itu, hasil temuan investigas KOMNAS HAM RI mengungkap bahwa PT. WKS terbukti melakukan tindakan pengamanan perusahaan tidak berdasarkan Perkap Kapolri terkait security.

Peristiwa terbunuhnya Indra Pelani ternyata belum merupakan akhir dari intimidasi PT. WKS terhadap masyarakat (KT Sekato Jaya) Desa Lubuk Mandarsah .

Pada Februari-Mei 2020 Tindakan intimidasi yang dilakukan oleh pihak perusahaan PT.WKS yang menggunakan aparat TNI dilakukan saat masyarakat beraktifitas berkebun dan menamam tanaman, perusakan tanaman masyarakat dengan dicabut, penebaran racun menggunakan drone dan penyemprotan racun secara manual menggunakan tabung yang dilakukan oleh pekerja perusahaan PT. WKS.

Bapak Andriyan (Masyarakat) mengatakan “Konflik yang terjadi di Desa Lubuk Mandarsah kelompok tani sekato jaya dengan perusahaan PT. WKS terjadi sudah cukup lama, tindakan kekerasan dan intimidasi kerap saja terjadi terhadap masyarakat, keserius perusahaan untuk menyelesikan konflik sosial itu tidak berjalan di lapangan. Kami meminta Pemerintah untuk segerah menyelesaikan konflik yang kami alami”.

Bapak Halim (Masyarakat) mengatakan, “Tanaman masyarakat yang rusak akibat dari peracunan drone seluas  2 Ha dengan jenis tanaman sawit, pisang, jengkol, cabai dan pohon sialang (madu), jumlah tanaman yang rusak tersebut lebih dari 50 batang. Lahan-lahan yang kami kelola merupakah areal untuk penghidupan kami seluas 1.500 Ha dan kami tidak pernah menggarap dan menggangu lahan perusahaan PT. WKS”.

Pada tanggal 31 Maret 2020, salah satu warga bernama Ahamd dilaporkan oleh PT. WKS ke Polres Tebo dengan tuduhan perambahan dan UU 18 2002 P3H, padahal masyarakat beraktifitas dan berkebun di lahan mereka sendiri, di lahan adat seluas 1.500 Ha.

Bapak Martamis (Masyarakat) menyampaikan, “Karena dalam situasi pandemi Covid 19, pada tanggal 15 April 2020 pihak Polres Tebo mengundang secara lisan warga untuk hadir dan bertemu dengan Kapolres Tebo dengan tujuan silahturahmi. Namun,  dalam pertemuan tersebut hadir juga pihak perusahaan PT. WKS dan beberapa kelompok masyarakat lain yang berkonflik dengan perusahaan PT. WKS. Dalam pertemuan tersebut Kapolres Tebo meminta agar warga bersama-sama menjaga kondisi kondusif dilapangan apa lagi dalam situasi pandemic menahan diri agar tidak terjadi kerusuhan di lapangan pada saat pandemi Covid-19. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bahwa pihak perusahaan tidak mengganggu tanaman masyarakat dan saling berkomunikasi, jadi pertemuan di Polres Tebo bukanla pertemuan mediasi Konflik”.

Namun, PT. WKS tidak menjalankan hasil kesepakatan di pertemuan tersebut.  PT. WKS tetap melakukan intimidasi dan pengrusakan tanaman masyarakat dengan cara dicabut,  dan penyemprotan racun secara manual menggunakan tabung semprot dilakukan oleh pihak perusahaan PT. WKS. Pada tanggal 28 April 2020 pihak perusahaan PT. WKS Bersama 2 orang TNI melakukan intimidasi kepada warga bernama Bapak Agus yang sedang melakukan aktifitas di kebun, dalam intimidasi tersebut pihak oknum aparat TNI menembakan senjata api keatas sebanyak 2 kali.

Abdullah dari WALHI Jambi yang hadir dalam pertemuan di Polres Tebo pada tanggal 15 April 2020 menyampaikan “Pertemuan di polres sama sekali bukan mediasi konflik yg terjadi antara KT Sakato Jaya dengan PT. WKS, masyarakat datang dan diundang dalam rangka silaturahmi dengan Kapolres yang baru dan juga antisipasi Covid 19, dilatarbelakangi laporan PT.WKS terhadap anggota kelompok tani, dan takut akan terjadi situasi yang bisa menimbulkan keributan /kericuhan di bawah juga kerumunan orang, maka ada inisiatif polres untuk mengundang KT Sakato Jaya dan juga melibatkan pendamping”.

Fran Dodi KPA Wilayah Jambi mengatakan “Hasil pertemuan di Polres Tebo menyepakati dalam berita acara (1). Dalam menyikapi situasi Pandemi covid 19. Untuk sama-sama menjaga situasi agar aman dan tidak ada kerumunan. (2). PT. WKS harus mengevaluasi penggunaan drone yang dapat menyebabkan kerusakan tanaman masyarakat dan kesehatan bagi masyarakat sekitar, (3). Masyarakat dan pihak perusahaan harus saling berkomunikasi, tetapi setelah pertemuan tersebut pihak PT. WKS masih melakukan intimidasi dan perusakan tanaman masyarakat”.

Sebelumnya, WALHI Jambi bersama dengan beberapa koalisi 90 NGO mengecam tindakan PT WKS terhadap masyarakat Desa Lubuk Mandarsah Tebo, Jambi dengan mengirimkan surat kepada investor dan pembeli APP di pasar global, meminta mereka untuk menghentikan bisnis dengan APP/Sinarmas.

Narahubung :
1. Andriyan : 0823-8341-6428, Masyarakat Lubuk Mandarsah, KT Sekato Jaya)
2. Abdullah : 0852-6670-3201 (WALHI Jambi)
3. Fran Dodi : 0823-7142-5487 (KPA Wilayah Jambi)

Lihat Kronologis Konflik :






Jambi, 15 Mei 2020, Terjadinya kekerasan berulang di Desa Lubuk Mandarsah, Kabuaten Tebo, Jambi, 90 organisasi masyarakat sipil Indonesia dan Internasional menyurati investor dan pembeli APP di Eropa dan Amerika Serikat. Surat ini meminta para investor dan buyers tersebut untuk menunda bisnis mereka dengan APP dan afiliasinya sampai perusahaan tersebut terbukti dan terverifikasi membuat perubahan secara radikal dan nyata di lapangan. 

Rudiansyah, Direktur WALHI Jambi mengatakan “bahwa peristiwa peracunan dengan menggunakan herbisida pembunuh gulma tersebut, dilakukan oleh PT. Wira Karya Sakti (pemasok APP d Jambi) pada pagi hari Tanggal 4 Maret 2020 pada tanaman masyarakat berupa karet, sawit dan sayuran. Akibanya, lebih kurang 2 hektar tanaman karet dan sawit rusak dan tidak dapat dimanfaatkan masyarakat.” 

Kejadian ini membuat warga marah dan respon keras masyarakat sipil, apalagi ini bukan kali pertama PT.WKS melakukan kekerasan kepada masyarakat Desa Lubuk Mandarsah. Pada tahun 2015 yang lalu, sekelompok sekuriti PT. WKS terlibat dalam pembunuhan pejuang tani, Indra Pelani. 

Lubuk Mandarsah adalah 1 dari 107 Desa yang berdasarkan studi oleh Koalisi NGO pada tahun 2019 yang lalu, merupakan konflik aktif yang terjadi sejak tahun 2007. Sejak tahun 2013 sebenarnya sudah ada beberapa proses untuk penyelesaian antara masyarakat dan WKS/APP, namun sampai sekarang proses tersebut tidak berjalan dengan baik. PT WKS bahkan beberapa kali melakukan intimidasi kepada masyarakat, termasuk yang terakhir adalah tindakan WKS dan sekuritinya yang didampingi oleh TNI mendatangi satu persatu masyarakat dengan tujuan untuk pendataan masyarakat yang mengelola lahan. Tindakan tersebut bahkan dilakukan sambil mengeluarkan tembakan ke udara. Hal inilah yang kemudian menjadi pertanyaan dari 90 organisasi masyarakat sipil di Indonesia dan Internasional, bahwa klaim APP yang hingga Oktober 2019 telah menyelesaikan konflik hingga 49% diduga hanya klaim tanpa didasari bukti yang bisa diverifikasi di lapangan, dan hanya bertujuan untuk mengelabui pasar mereka.  

Untuk itulah, “Kami ingin menegaskan agar para pihak yang selama ini, atau berencana untuk berbisnis dengan APP untuk menunda terlebih dahulu sampai perusahaan ini terbukti memenuhi janjinya sebagaimana mereka janjikan dalam Forest Conservation Policy 2013 untuk menghormati hak-hak masyarakat dan menyelesaikan konflik secara bertanggung jawab, tegas Rudi.” Kami juga mendesak kepada pemerintah untuk lebih aktif lagi untuk melakukan pengawasan dan terlibat langsung dalam fasilitasi konflik antara HTI dan masyarakat, agar kekerasan oleh perusahaan tidak kembali terulang di kemudian hari. 

Narahubung
Rudiansyah, 0813 6669 9091

Baca surat lengkapnya :


Jambi, 20 April 2020— Wabah Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) telah membawa dunia pada potensi krisis pangan.  Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengeluarkan imbauan kepada seluruh negara untuk berhati-hati menghadapi pandemi ini. FAO memprediksi pada Mei 2020 pemenuhan pangan dunia akan mulai mengalami gangguan supplychain (FAO, April 2020).  Data BPS pun memperlihatkan ancaman yang serupa kepada Indonesia. Ketergantungan kita pada impor kebutuhan pangan masih sangat tinggi. Kondisi ini tentunya melahirkan kekhawatiran bagi rakyat miskin. Bagaimana menyambung hidup ditengah krisis, penurunan pendapatan dan PHK akan menyebab kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dan pokok lainnya. Dampak Covid-19 bagi penduduk miskin, termasuk petani ibarat kiamat kecil. 

Menghadapi potensi bencana global ini sudah seyogianya semua pihak bahu membahu saling bantu. Namun, tidak demikian bagi Asia Pulp dan Paper (APP Sinar Mas). Perusahaan raksasa bubur kertas yang pada tahun 2013 menyampaikan komitmen global terkait penghormatan hak-hak masyarakat adat/lokal. Justru, melalui pemasoknya di provinsi Jambi, PT. Wirakarya Sakti (PT. WKS) menghancurkan sumber pangan masyarakat di Desa Lubuk Mandarsah, Kebupaten Tebo, Jambi. PT. WKS melakukan tindakan brutal dan diluar nalar kemanusiaan, mereka menabur racun menggunakan pesawat tanpa awak (drone) pada tanaman karet, sayuran dan sawit yang baru ditanam masyarakat.  Perbuatan yang dilakukan pada rabu pagi 4 Maret 2020 mengakibatkan 2 hektar tanaman pangan masyarakat mati. Petani Tebo kehilangan sumber pangan dan mengalami kerugian jutaan rupiah. 

Sebelum peristiwa tersebut, berdasarkan keterangan masyarakat, beberapa dari mereka yang mencoba menghentikan kegiatan pengerjaan lahan tanpa proses FPIC diatas wilayah konflik juga mendapatkan intimidasi dan pengusiran oleh sekuriti PT. WKS  bersama dua orang yang  salah satunya diduga anggota TNI dan 1 orang tak dikenal, berperawakan menakutkan dan sangat intimidatif. 

Tidak cukup sampai disitu, diwaktu hampir bersamaan perusahaan yang selalu mengklaim sebagai perusahaan yang menghormati hak-hak masyarakat ini, juga melaporkan masyarakat ke kepolisian atas tuduhan pengrusakan hutan.

Tindakan brutal ini adalah kali kedua dilakukan oleh WKS/APP (Asian Pulp and Paper) kepada masyarakat Desa Lubuk Mandarsah. Tahun 2015, seorang petani bernama Indra Pelani dibunuh oleh sekelompok sekuriti PT. WKS. Jasadnya ditemukan dalam kondisi penuh luka tusuk dan pukulan benda tumpul sejauh lebih kurang 8 KM dari pusat desa. 

Menyikapi peristiwa tersebut, WALHI Jambi, KelompokTaniSekato Jaya, SerikatTaniTebo dan KPA Wilayah Jambi menyampaikan sikap sebagai berikut:

  1. Tindakan menabur racun melalui udara dengan menggunakan dronemerupakan perbuatan yang membahayakan sekaligus mengancam kesehatan masyarakat, termasuk anak-anak dan balita. Bagi petani di Desa Lubuk Madrasah ladang bukan sekedar tempat becocok tanam namun juga tempat bersilaturahmi dan bermain bersama keluarga dan anak-anak. Tindakan menabur racu dengan dronesecara tiba-tiba tentunya berakibat fatal bagi masyarakat, terutama anak-anak dan balita. 
  2. Bahwa terhadap perbuatan tersebut APP terbukti gagal memenuhi komitmennya. Kejadian ini jadi salah satu bukti kebohongan APP terhadap klaim penyelesain konflik dan perubahan pola bisnis yang disampaikan kepada masyarakat global;
  3. Terhadap kejadian tersebut, maka kami menuntuk kepada:

  • PT. WKS dan APP untuk bertanggungjawab secara hukum terhadap kejadian pengrusakan dan potensi gangguan kesehatan yang dilakukan di Desa Lubuk Madrasah;

  • Seluruh pihak yang melakukan bisnis dan menggunakan produk APP– Sinar Mas Group untuk menghentikan kerja sama dan konsumsi produk berbahan baku dari aktivitas bisnis group ini sampai terbukti dan terverifikasi telah melakukan perubahan radikal dalam sistem bisnisnya;

  • Mendesak Kementerian LHK, Pemerintah Provinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten Tebo selama masa bencana COVID 19 menghentikan segala kegiatan perusahaan yang berpotensi menimbulkan konflik dengan masyarakat, dan/atau menyebabkan penyebaran virus ke masyarakat;

  • Kepolisian Republik Indonesia untuk memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat dan melakukan proses penegakan hukum yang tegas terhadap dugaan tindak pidana pengruskan dan lainnya yang dilakukan dengan cara menabur racun melalui udara dengan menggunakan dronedanintimidasidanperusakantanamanmasyarakat. 



Narahubung :
Rudiansyah. WALHI Jambi : 081366699091

M Jais. Ketua Kelompok Sekato Jaya : 0852-1779-2632

Iyan. Serikat Tani Tebo : 0823-8341-6428

FrandDody. KPA Wilayah Jambi : 0823-7142-5487

Wahyu. Eksekutif Nasional WALHI: 0821-1239-5919

Jambi, 14 April 2020 - Di Indonesia, melalui ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19), telah mengeluarkan surat keputusan perpanjangan masa darurat bencana Covid-19 hingga 29 Mei 2020. Surat keputusan itu dikeluarkan pada tanggal 29 Februari 2020 lalu, seiring dengan peningkatan jumlah korban. Terhitung 13 April 2020, angka kasus Covid-19 secara nasional sampai saat ini telah mencapai 4.557 kasus yakni 3.778 dalam perawatan, 380 sembuh, dan 399 orang meninggal. 

Berdasarkan Surat Keputusan No.301/Kep/Gub/BPBD/2020 Pemerintah Provinsi Jambi menaikkan status dari Siaga Darurat  yang sebelumnya dimulai dari 18 Maret hinggga 29 Mei 2020 (73 hari) menjadi Tanggap Darurat  Covid-19 terhitung dimulai pada hari Senin 13 April – 29 Mei 2020. 

Terkait dengan informasi sebaran Pendemi COVID 19 di Provinsi Jambi, data yang dipublis oleh Gugus Tugas Penanganan  COVID-19 Provinsi Jambi pertanggal 14 April 2020, berjumlah 5 orang yang dinyatakan positif, 543 orang dalam pengawasan ODP dan 11 pasien dalam pengawasan. 

Karena pendemik COVID-19 adalah peristiwa yang bukan hanya terjadi disatu daerah saja, bahkan sampai saat ini justru terpusat penyebarannya diwilayah Ibu Kota Negara Indonesia, maka sudah seharusnya secara kebijakan penanganannya juga harus tersentralistik pada Pemerintah Pusat. 

Sampai saat ini, upaya Pemerintah pusat dalam pencegahan penyebaran COVID-19  masih bersifat himbauan, seperti harus berprilaku hidup bersih dan sehat [PHBS] dan melakukan jaga jarak fisik [Social Distancing]. Sedangkan jumlah korban COVID-19 di Indonesia, khususnya di Provinsi Jambi dari waktu kewaktu semakin bertambah. 

Jika kita lihat dari ketentuan regulasi yang sudah ada di Indonesia, penanganan bencana yang kategorinya seperti pendemik COVID-19, sudah bisa diterapkan pada wilayah-wilayah yang disepakati untuk ditentukan, dengan menerapan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dalam langkah pencegahan penyebaran virus corona di Indonesia.  

Berdasarkan UU Kekarantinaan Kesehatan, karantina wilayah dilakukan jika situasi kesehatan masyarakat dikategorikan darurat salah satunya karena penyakit menular. Dan sesuai UndangUndang karantina juga, salah satu kewajiban pemerintah adalah memenuhi kebutuhan hidup dasar masyarakat, termasuk makanan bagi hewan-hewan ternak milik warga. 

Masih belum bersedianya pemerintah pusat untuk melakukan karantina beberapa wilayah yang memiliki sebaran pendemik COVID-19, bukan hanya menjadi salah satu penyebab terus bertambahnya korban akibat terjadinya penularan, namun yang menjadi politis adalah, Pemerintah Daerah yang ragu dan takut untuk melakukan karantina wilayahnya. 

Dan yang menjadi celakanya, sumber daya Pemerintah Daerah seperti Provinsi Jambi, sangat sedikit memiliki kelengkapan [Rumah sakit khsus  Pasien COVID-19, Alat Pelindung Diri dan obatobatan] dan tenaga medis jika dihadapkan dengan situasi yang memburuk yang ditandai dengan terus meningkatnya jumlah masyarakat Jambi yang terpapar COVID-19.

Selain belum cukupnya sumber daya yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jambi dalam penanganan COVID-19, sistem dan kebijakan yang dimilikipun masih harus dikoreksi. Seperti soal kebijakan penghitungan korban. Angka  COVID-19 yang diungkap oleh Pemerintah Jambi melalui Tim Gugus Tugasnya, masih dapat dikatakan meragukan dan seakan-akan ingin memperlihatkan kepada kita semua, bahwa Provinsi Jambi masih aman yang justru bisa membuat lalai terkait penanganannya. 

Masih diragukannya informasi angka terkait dengan potensi dan korban COVID-19 yang diproduksi oleh Pemerintah Provinsi  Jambi adalah, sampai saat ini prioritas masih menyuguhkan data terkait dengan Aparatur Sipil Negara yang baru melakukan perjalanan dinas ke luar daerah dan tidak ditindak lanjuti dengan upaya melakukan karantina atau isolasi ditempat yang sudah disediakan. 

Lemahnya sistem dan sumberdaya yang dimiliki oleh Pemerintah Jambi dalam menghadapi pendemik COVID 19, juga diikuti dengan minimnya pengetahuan dasar soal bagaimana memperkuat kekebalan tubuh yang menjadi salah satu factor penting untuk tidak terpapar dari virus Corona secara alami, berbiaya murah dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat. 

Pada rapat gelar antisipasi dan evaluasi gugus tugas penanganan covid 19 di Provinsi Jambi dikantor BPBD Provinsi Jambi, Sabtu [28/3/20], Pj Sekda Provinsi Jambi, Sudirman, menyampaikan bahwa. 

"Ada dana Rp 11 miliar di tiga instansi, yakni di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Jambi Rp 7 miliar, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Rp 2,5 miliar dan BPBD Provinsi Jambi Rp 1,5 miliar.” 

Upaya lain yang akan dilakukan oleh Pemerintah Jambi selanjutnya, pada penggunaan fasilitas LPMP, BPSDM, Asrama Haji, sebagai tempat penanganan korban, jika julahnya terus meningkat dan melakukan penyemprotan disinfektan pada wilayah-wilayah rentan, seperti rumah –rumah penduduk, kantor pemerintah. 

Alih-alih sumber daya Pemerintah yang dikosentrasikan penuh untuk menghadapi pendemik COVID19, muncul persoalan lainnya yang tidak kalah mengerikan dan saat ini bermunculan di Provinsi Jambi. 

Kebijakan social distancing pada prinsipnya tidak boleh dijauhkan dari kewajiban Pemerintah terhadap masyarakatnya, untuk memastikan kebutuhan dasar seperti pangan dan kesehatan. Pemberlakuan  social distancing di Jambi, menurut Bahari Kepala Disnakertrans Jambi, terhitung sejak Sabtu (11/4/2020) telah mengakibatkan sekurang-kurangnya ada 4.008 tenaga kerja yang sudah dirumahkan, 7 orang di PHK dari 48 perusahaan yang ada di Jambi. 

Dari beberapa catatan yang disampaikan diatas, kami masyarakat sipil menyatakan sikapnya sebagaia berikut : 

  1. Memberikan perlindungan dan penghormatan sebesar-besarnya kepada seluruh tenaga kesehatan (Dokter, Perawat, dan Para Pekerja Pendukungnya) yang telah bekerja menjadi garda terdepan melawan pendemik COVID-19. Untuk itu, kami meminta kepada Provinsi Jambi untuk memfasilitasi APD yang lengkap dan banyak bagi tenaga medis. 
  2. Mengajak kepada seluruh masyarakat luas di Provinsi Jambi untuk terus bersama-sama melakukan dan mempraktekan prilaku hidup sehat dan bersih dan mulai menjaga jarak pada kegiatan sosial [Physical Distancing], untuk memutus rantai pendemik COVID-19. 
  3. Meminta kepada  Pemerintah Provinsi Jambi untuk secepatnya menyiapkan inprastruktur penanganan COVID-19 yang memadai. Seperti menyiapkan tempat yang bisa digunakan untuk evakuasi korban. 
  4. Meminta kepada Pemerintah Provinsi Jambi untuk terbuka dalam proses penghitungan angka korban dan melakukan penghitungan potensi korban COVID-19 serta memberikan informasi detil korban untuk bisa memutus mata rantai penularan. 
  5. Meminta kepada Pemerintah Jambi untuk melakukan secepatnya tes masal, yang tentunya bisa diakses oleh semua golongan masyarakat di Provinsi Jambi. 
  6. Menyediakan tempat dan kelengkapan untuk sterilisasi virus COVID-19 yang disediakan difasilitas-fasilitas umum  seperti, pasar, tempat ibadah, sekolah dll. 
  7. Memastikan produksi dan distribusi Alat Pelindung Diri [Masker dan obat-obatan] yang akan dibutuhkan oleh masyarakat di Provinsi Jambi, terjamin dipasaran dengan harga yang mampu terjangkau oleh seluruh golongan masyarakat. 
  8. Meminta kepada pihak Pemerintah, baik pusat dan Daerah, untuk secepatnya meralisasikan dana social kepada masyarakat terdampak. 
  9. Meminta kepada Propinsi Jambi dan Kab/Kota, untuk memastikan ketersediaan pangan bagai masyarakat di perdesaan dan perkotaan. 
  10. Meminta kepada Pemerintah agar pengetahuan tentang tata cara menguatkan daya tahan tubuh secara alami [Pengetahuan local/tradisonal/obat/jamu] difasilitasi dan disitribusikan kepada masyarakat Jambi.
  11. Meminta kepada Pemerintah Provinsi Jambi dan Kab/Kota untuk secepatnya melakukan tindakan pencegaahan penyebaran covid-19 dengan cara Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) atau tindakan lain. 

Jambi, 14 April 2020 
Koalisi Komponen WALHI Jambi 
(Perkumpulan Hijau, Lembaga Tiga Beradik, Yayasan Keadilan Rakyat, Beranda Perempuan, Walestra, Inspera, G-cinDe, Gita Buana Club, Mapala Gitasada Unbari, Mapala Himapastik, KPKA Rimba Negeri)

Narahubung :  

0813-6669-9091 : Rudiansyah (Direktur ED WALHI Jambi) 

0813-6639-9190 : Zubaida (Direktur Beranda Perempuan) 

0812-2108-2005 : Feri Irawan (Direktur Perkumpulan Hijau) 

0823-7958-5728 : Hardi Yuda, S. IP (Direktur Lembaga Tiga Beradik)

0822-3036-0023 : Abu (Ketua Mapala Gitasada Unbari) 

0852-6756-7515 : Mahendra (Ketua Gita Buana Club) 

0812-1334-416   : Anis (Ketua Mapala Himapastik HI) 

0852-1082-8864 : Irman (Direktur Yayasan Keadilan Rakyat) 

0821-7797-8059 : Ade Ahmad (Direktur Inspera) 

0822-6935-8188 : Eko Waskito (Direktur G-cinDe) 

0823-7262-9110 : Hendra (Ketua KPKA Rimba Negeri) 

0852-6844-3086 : Riko Kurniawan (Direktur Walestra)

Khalisa Khalid (berdiri) saat memimpin konsolidasi kelompok perempuan di Jambi, Rabu (4/3/2020). Dalam konsolidasi itu keluar rekomendasi, yang salah satunya terkait pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan dan perempuan sebagai aktor ekonomi. (Liputan6.com / Gresi Plasmanto)

Setiap 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women's Day). Bertepatan dengan itu, juga merefleksikan bahwa sampai sekarang masih banyak persoalan yang dialami oleh kelompok perempuan.

"Saya minta semua perempuan, ibu-ibu yang ada di sini mulai menyuarakan apa yang dirasakan (ketidakadilan), apa yang dialami perempuan di kampungnya," demikian yang pertama kali disampaikan Koordinator Desk Politik Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Khalisa Khalid dihadapan puluhan perempuan.

Dalam sebuah agenda konsolidasi perempuan pejuang lingkungan dan sumber daya alam di Jambi, Rabu (4/3/2020), Khalisa mencoba mendoktrin para perempuan yang hadir mulai menyuarakan ketidakadilan gender yang dialami.

Misalnya kata Khalisa, ketika bicara kerusakan lingkungan hidup, dampak pembangunan yang serampangan, perempuan adalah kelompok rentan yang terdampak lebih besar. Karena, selama ini paradigma pengelolaan kekayaan alam telah menjauhkan peran perempuan.

Hal itu juga dibuktikan hampir dibanyak kesempatan. Kelompok perempuan kerap ditinggalkan dalam setiap rencana pembangunan, baik dari tingkat desa atau kampung hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Kebijakan masih mengabaikan kelompok perempuan.

Sekarang sudah saatnya mempunyai inisiatif untuk membangun ruang hidup, alternatif ekonomi. Selain itu, perempuan juga harus berinisiatif menyampaikan pendapat dan meyakinkan pemerintah bahwa perempuan juga bisa menjadi aktor ekonomi.

"Kita kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA), jadi harus ada bagian atau inisiatif perempuan untuk mengelolanya. Kalau ekonomi perempuan bisa berjalan, maka ini bisa menjadi proteksi untuk ketahanan ekonomi dan pangan," kata Khalisa.

Keadilan gender menurut Khalisa, harus menjadi bagian terintegrasi dalam perjuangan guna mewujudkan keadilan ekologis. Perempuan mempunyai peran yang strategis dalam berbagai bidang, termasuk ambil bagian dalam setiap kebijakan yang ramah terhadap perempuan dan lingkungan hidup.
"Menyuarakan apa yang perempuan yang alami, saya contohkan apa yang dilakukan ibu-ibu Kendeng (menolak pabrik semen), meski kasus belum selesai dan hasilnya justru ketidakadilan. Bagaimana ibu-ibu Kendeng bisa terus berjuang hingga mendapatkan perhatian dari publik," kata Khalisa.

Dalam sebuah konsolidasi perempuan di Jambi tersebut, Khalisa meminta puluhan perempuan yang hadir supaya dapat memaparkan kondisi yang terjadi di kampungnya masing-masing, baik itu pembangunan, ekonomi atau perampasan hak.

Susilawati, salah seorang perempuan dari Desa Sogo, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, yang hadir dalam konsolidasi itu menyampaikan, bahwa perempuan di desanya telah kehilangan hak kelola atas tanahnya yang sekarang diserobot perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Dia mengatakan, banyak perempuan di desanya yang kini hanya bekerja sebagai harian lepas di perusahaan setelah mereka tidak bisa menggarap lahan pertanian. Kondisi ini sudah terjadi belasan tahun.

"Sudah 15 tahun lamanya kami meminta hak kami dikembalikan, sudah mengadu kemana-kemana, dan sekarang harus kemana lagi kami mengadu," kata Susilawati.


Rekomendasi

Konsolidasi Perempuan Jambi
Sejumlah perempuan di Jambi usai berkonsolidasi, Rabu (4/3/2020) Dalam konsolidasi itu keluar sejumlah rekomendasi, salah satunya terkait pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan dan perempuan bisa menjadi aktor ekonomi. (Liputan6.com / Dok Walhi Jambi)

Ketidakadilan dan kesetaraan gender masih jauh dari harapan. Menurut World Economic Forum (WEF) pada tahun 2020 Indonesia berada pada peringkat 8 (Asia Pasific) terkait kesenjangan gender global.

Sedangkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pemberdayaan Gender 2019 menempatkan perempuan sebagai tenaga profesional dengan presentase diangka 35 hingga 55 persen.

Dalam sebuah konsolidasi perempuan pejuang lingkungan hidup dan SDA di Jambi tersebut, para perempuan menyatakan akan terus berjuang mengelola sumber daya alam dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Mereka juga saling berdiskusi atas masalah yang mereka hadapi dan mengidentifikasi akar masalah, hingga akhirnya konsolidasi itu menelurkan sejumlah rekomendasi.

Rekomendasi dari hasil konsolidasi perempuan dari pedesaan yang digagas Walhi tersebut, di antaranya adalah mendesak pemerintah segera menyelesaikan konflik agraria dan sumber daya alam yang terjadi di wilayah mereka.

Kemudian mereka meminta pemerintah untuk memulihkan alam yang rusak. Dan pemerintah segera mengakui serta melindungi wilayah kelola rakyat dan memfasilitasi dengan menguatkan ekonomi alternatif perempuan.

"Penguatan perempuan untuk menyuarakan aspirasi dan hak-hak perempuan, khususnya terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup serta wilayah kelola rakyat yang berkelanjutan."


Tantangan Kelola Rakyat Ditengah Omnibus Law Cipta Kerja


Direktur Eksekutif Nasional Walhi
Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Nur Hidayati saat memaparkan pentingnya wilayah kelola rakyat. (Liputan6.com / Gresi Plasmanto)
Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang diusulkan pemerintah terus mendapat penolakan dari berbagai pihak, salah satunya Walhi. Selain dianggap akan mendiskriminasi hak pekerja perempuan, RUU Cipta Kerja ini juga akan semakin mempercepat kerusakan ekologi dan mengancam wilayah kelola rakyat.

Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Nur Hidayati mengatakan, pemerintah masih terus disibukan dengan RUU Cipta Kerja, yang isinya tidak ada hubungan dengan penciptaan lapangan kerja. Dan justru menghilangkan pekerjaan rakyat yang sudah berproduksi.

Juga Omnibus Law RUU Cipta Kerja, menurut Nur Hidayati, merupakan sebuah perangkat hukum yang dibuat pemerintah untuk memuluskan investasi skala besar dengan cara membabat regulasi yang ada sebelumnya dan membungkam suara kritis dari rakyat.

"Saya kira masih banyak lagi potensi alam kita yang harus dikelola dengan lebih optimal. Di depan mata ada jutaan model ekonomi, ada jutaan rakyat yang mau produksi, tapi tidak punya akses, 60 persen wilayah daratan dikuasai konsesi dan korporasi," kata Nur Hidayati dalam sebuah Acetival Wilayah Kelola Rakyat di Jambi.

Yaya, begitu Nur Hidayati disapa, mengatakan, ketimbang membuat kebijakan RUU Cipta Kerja, sebaiknya pemerintah memberikan asistensi untuk meningkatkan produksi rakyat hingga akses pasarnya. Terbukti dengan asistensi itu bisa meningkatkan produktifitas dan rakyat mendapatkan harga jual yang lebih baik.

"Asistensi yang seharusnya dilakukan, misalnya soal akses pasar, kita tahu selama ini akses pasar dikuasi kartel, jadi ketika rakyat tidak punya bekingan, maka tidak bisa mengakses pasar, pecuma juga," katanya menjelaskan.

Sudah saatnya komponen masyarakat sipil, termasuk media untuk turut menyuarakan ekonomi rakyat yang telah berhasil. "Kalau enggak terus disuarakan, maka kita akan semakin sulit menandingi wacana pemerintah dari rencana investasi besar itu," kata Nur Hidayati.

Sumber : liputan6.com

KWT Dampingan Walhi Manfaatkan Lidi Sawit dan Bambu Menjadi Kerajinan yang Bernilai


Dalam kondisi sumber daya alam melimpah dan tumbuh suburnya budaya instan, melihat berkah dari alam dan memanfaatkannya adalah kemampuan yang luar biasa.
Seperti kelompok tani dampingan Walhi yang memanfaatkan lidi kelapa sawit dan bambu untuk dimanfaatkan kembali.

Lidi kelapa sawit tak banyak dilihat manfaatnya. Namun, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sako Indah, melihat potensi ini. KWT Sako Indah berlokasi di Desa Baung, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.

Yanti, anggota KWT Sako indah mengatakan, tidak ada yang punya lahan sawit khusus di desa mereka, namun ada yang menanam sawit di pinggiran sungai. Sawit-sawit itu lah yang kemudian lidinya dimanfaatkan.


Ibu-ibu dalam kelompok tani membagi diri dalam empat kelompok.
04032020_Kerajinan dari KWT bimbingan Walhi Jambi
04032020_Kerajinan dari KWT bimbingan Walhi Jambi (Tribunjambi.com/Jaka HB)
"Ada yang guntung atau membersihkan, ada yang membuat polanya dan ada juga yang menganyamnya," ungkap Yanti, Rabu (4/3/2020).

KWT Sako Indah punya empat jenis produk. Ada piring kecil, piring besar, tempat air minum kemasan dan tempat buah yang ukurannya paling besar.

"Kalau piring itu selusinnya Rp 80 ribu. Tempat air minum Rp 50 ribu dan tempat buah Rp 30 ribu," bebernya.

Bahkan peminat produk ini cukup banyak.

"Ada dari Kerinci, Bangko dan Jambi. Biasanya untuk kebutuhan katering," bilang Yanti.
Menurut Yanti, jarak tempat mengambil lidi dari tempat mereka cukup jauh. Sebab mereka tidak ada yang bertani sawit secara besar-besaran.

Selain KWT Sako Indah, ada pula KWT Kunyit Serumpun  yang juga dari Kecamatan Batang Asai. Bedanya, KWT ini memroduksi produk alam berbahan dasar bambu.

Rohana, Ketua Kelompok Kunyit Serumpun mengatakan, pihaknya membuat produk berbahan dasar bambu, seperti tampi beras, pinggan atau piring kecil, ambung (untuk mengkat kayu bakar), sarau untuk menangkap ikan dan tempat air minum kemasan.

"Ambung bisa angkut kayu sampai 25 kg," katanya.

Menurut Rohana, setiap bulannya ada 10 sampai 15 produk yang terjual. Sedangkan proses pembuatannya cukup sulit di awal.

"Tempatnya cukup jauh dan pohonnyakan berduri itu. Harus bersihkan durinya dulu," ungkap Rohana.

Dua KWT ini merupakan sebagian dari 11 pengisi stand di acara Acetival Wilayah Kelola Rakyat Walhi Jambi yang diselenggarakan di pelataran parkir Hotel Golden Harvest.

Dalam acara ini, Walhi menghadirkan panganan lokal petani Jambi dan beberapa pegiat budaya dan seni di Jambi.

Acara ini diselenggarakan Walhi Jambi selama dua hari dari tanggal 3 hingga 4 Maret 2020, yang juga diiringi acara lainnya.

KWT Dampingan Walhi Manfaatkan Lidi Sawit dan Bambu Menjadi Kerajinan yang Bernilai  (Tribunjambi.com/Jaka HB)

Khalisah
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Provinsi Jambi kembali mengadakan kegiatan workshop, Rabu (4/3/2020) yang mengangkat isu perempuan. Walhi menghadirkan Khalisah Khalid, Koordinator Dispolitik Walhi Nasional menjadi narasumber.
Dalam Work Shop ini,  Khalisah mengatakan bahwa perempuan saat ini memiliki andil dalam ekonomi pembangunan. Termasuk perempuan-perempuan saat ini mengalami kondisi yang sama dalam mengembangkan usaha seperti sumber daya alam. "Situasi perempuan dan sumber daya alam yang dihadapi seluruh perempuan sebenarnya nyaris sama di seluruh wilayah", ujarnya.
Khalisah menjelaskan bahwa perempuan sebenarnya memiliki inisiatif dalam perjuangan membangun ekonomi perempuan seperti pengolahan kerajinan yang diperoleh dari alam. "Kerajinan produk produk dari kayu kemudian juga ada pengolahan jahe. Nah itu harus dilihat sebagai perjuangan mereka", tambahnya.
Perkembangan ekonomi perempuan dijelaskan oleh Khalisah perlu mendapatkan banyak dukungan dari pemerintah. Terutama dalam bentuk perizinan. Khalisah juga menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi dari perempuan lebih berkelanjutan. "Lebih berapa kelanjutan secara lingkungan misalnya contohnya produk yang dikelola melalui kayu. Itu sebenarnya dalam konteks lingkungan itu menjaga hutan", ujarnya.Khalisah sangat meyakini bahwa ekonomi yang dibangun oleh perempuan lebih berkelanjutan. (sap)
Sumber : jamberita.com

Tingkatkan Potensi UMKM, Ini yang Dilakukan Walhi Jambi di Hotel Golden Harvest


Guna meningkatkan potensi ekonomi masyarakat Provinsi Jambi, Walhi Provinsi Jambi menggelar wilayah kelola rakyat masyarakat di Provinsi Jambi. Berbagai rangkaian kegiatan digelar selama dua hari yakni 3-4 Maret, di Hotel Golden Harvest Jambi.

Kegiatan yang digelar diantaranya pameran stand dari perwakilan UMKM dari seluruh Provinsi Jambi dan komunitas dampingan Walhi, dan beberapa perwakilan organisasi masyarakat.

Ada juga workshop wilayah kelola rakyat yang membahas masalah potensi UMKM yang dihadiri langsung oleh kementrian UKM Republik Indonesia, pihak Dinas Kehutanan Provinsi Jambi dan Direktur Walhi Pusat.

Dari pantauan Tribunjambi.com stand yang ada di halaman Hotel Golden Harvest tampak menyediakan berbagai potensi UMKM desa. Di antaranya seperti produk lokal, kopi, teh, gelang, tas, dan lainnya.

Dikatakan Rudiansyah Direktur Eksekutif Walhi Jambi bahwa ada dua tujuan rangkaian kegiatan yang digelar oleh Walhi Jambi. Di antaranya meminta dukungan untuk perlindungan wilayah kelola rakyat dan dukungan para pihak mempertahankan potensi alam di Jambi.

“Sehingga masyarakat tidak hanya bergantung dengan industri yang ada di Jambi. Melainkan mampu mendongkrak ekonomi dengan membuat UMKM yang kita dukung untuk terus dipasarkan,” sebutnya.

Menurut Rudiansyah berbagai kegiatan juga digelar dalam dua hari ini. Di antaranya talkshow tentang kegiatan ekonomi perempuan bersama perempuan yang sudah aktif dalam meningkatkan UMKM di Jambi.

“Kita berbagi dan konsolidasi tentang penguatan kapasitas kelompok perempuan yang ada di Provinsi Jambi,” pungkasnya. (Rohmayana)



 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi mengadakan Festival Wilayah kelola Rakyat. Festival ini merupakan kegiatan besar yang diadakan Walhi Jambi.
Rangkaian kegiatannya adalah berupa event Workshop wilayah kelolarakyat yang didalamnya nanti mengundang narasumber dari Kementerian Koperasi UKM RI, Dinas Kehutanan provinsi Jambi, praktisi akademisi dan dari Walhi.
Rudiansyah Direktur Eksekutif daerah Walhi Jambi menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk upaya untuk memperoleh dukungan terhadap wilayah kelolarakyat di Provinsi Jambi. "Kenapa ini penting dilakukan adalah aspek keberlanjutan dan aspek kearifan lokal yang telah terjadi di masyarakat dalam pengembangan potensi yang telah dilakukan menjadi modal utama dalam proses menjaga keberlanjutan lingkungan yang ada di masyarakat", ujarnya. (3/3/2020)
Selain dari workshop Walhi Jambi juga mengadakan pameran yang menampilkan produk dari beberapa komunitas penggiat lingkungan dan juga dari organisasi masyarakat. Yang semuanya merupakan murni hasil dari sumber daya alam atau komoditas yang ada di desa.
Selanjutnya Direktur Eksekutif Walhi Nasional Nurhidayati menjelaskan bahwa wilayah kelolarakyat merupakan konsep tanding yang diajukan oleh Walhi untuk mengubah pembangunan di Indonesia. "Jadi kalau di masa lalu itu pembangunan di tumpukan kepada industri-industri besar padat modal yang utama modal asing, Kami ingin sebenarnya dalam wilayah kelola kelola rakyat ini memunculkan rakyat sebagai aktor utama", ujarnya. (sap)
Sumber : jamberita

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.