JAMBI, TRIBUN – Komandan Korem 042 Garuda Putih yang baru, Kolonel Inf Reflizal beserta istri tiba di Jambi. Mereka disambut langsung oleh Brigjen TNI Makmur Umar dan unsur Forkompida, di Bandara Suthan Thaha, Sabtu (16/7).
Tarian sekapur sirih menyambut kedatangannya di VIP room bandara. Sesampainya di Makorem 042 Gapu, putra daerah Jambi itu disambut dengan atraksi barongsai dan tradisi pedang pora. Kolonel Reflizal resmi diterima di Makorem setelah menandatangani serah terima sebagai komandan. Serah terima jabatan (Sertijab) sendiri akan dilakukan pada senin mendatang di Mako Kodam II Sriwijaya.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan tongkat Komandan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Reflizal mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi prioritas kerja untuk kedepan. Hal ini karena dampak dari kebakaran untuk lingkungan begitu buruk.
“Pertama kali harus kompak dengan gerakan organisasi yang telah dibentuk. Dalam hal ini sangat diperlukan kebersamaan untuk menuntaskan masalah tersebut,” katanya.
Ia meminta kesadaran masyarakat dan pihak perusahaan di jambi untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena dampaknya jelas buruk. “Ini sudah instruksi penting untuk karhutla ini. Lebih lanjut akan dilakukan secara teknis untuk satgas karhutla ini karena saya belum sertijab, yang jelas ini prioritas kita,” jelasnya:
Sementara itu Makmur Umar yang menjabat menjadi Danrem Samarinda berpesan kepada kolonel reflizal untuk lebih baik lagi dalam memberdayakan satgas yang ada dengan lebih maksimal. “jaga kekompakan dan kebersamaan untuk masyarakat jambi,“ Ujar Makmur.
Ia mengatakan, masalah karhutla banyak oknum yang tak menyadari kebakaran hutan adalah merugikan orang banyak. “perlu disosialisasikan lebih lagi serta penegakan hukum yang lebih tegas, akan menimbulkan efek jera,” tandasnya.
Kolonel Reflizal diharapkan oleh gubernur Jambi, Zumi Zola, bisa lebih baik lagi dalam menghadapi karhutla. ”Ada beberapa hal yang akan dibahas bersama dalam menghadapi karhutla. Mudah- mudaha tongkat estapet bisa dilanjutkan dan lebih bai,.” Kata Zola.
“selain itu masalah PETI (penambangan emas tanpa izin) juga akan kita bahas. Karhutla dan PETI perlu langkah pencegahan. Kita akan rapatkan masalah ini dengan unsur Formkompinda. Jangan sampai karhutla tahun lalu terulang di tahun ini,” jelasnya. (adi)

Harus Beri Efek Jera

POTENSI kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi tahun inicukup besar. Hal ini berkaca pada merebaknya hotspot (titik panas) di sejumlah wilayah di jambi. Bahkan berdasrkan data BPBD Provinsi Jambi, 74 hektare yang terbakar selama Juli Ini.
Terkait kondisi ini, dua organisasi non pemerintah yang bergerak dibidang lingkungan, Walhi dan Warsi memiliki masukan untuk mengantisipasi maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berkaca dari tahun sebelumnya, terdapat beberapa poin yang harus diperbaiki pada tahun ini.

Dwi Nanto Menejer Advokasi dan Kampanye Walhi Jambi mengatakan, ada baiknya satgas Karhutla berkaca dari kelemahan yang terjadi pada tahun lalu. Untuk mengatasi hal itu mereka harus memiliki skenario baru untuk perubahan.
Sedikitnya ada dua poin yang harus diperbaiki untuk mencegah tidak terjadi seperti tahun lalu, yakni memperbaiki penegakan hukum lintas sektor termasuk keseriusan dalam penegakan hukum. Hal ini agar pelaku jera.
Pasca kebakaran 12 Juli 2016 (Lokasi PT.Bukit Bintang Sawit,Kecamatan Kumpeh,Kabupaten Muaro Jambi)


Selanjutnya adalah melibatkan masyarakat, dengan memberikan tanggung jawab kepada mereka dan memberikan pelatihan- pelatihan , sehingga masyarakat memiliki rasa tanggung jawab dan kewajiban. “satu dari poin tersebut dapat dijalankan, kemungkinan hal serupa dapat di antisipasi ujarnya, sabtu (16/7)
Hal senada juga disampaikan Koordinator Divisi Informasi Warsi, Sukmareni. Ia mengatakan meski menurut data BMKG kemarau di tahun ini tak separah yang terjadi di tahun sebelumnya, Satgas Karhutla harus lebih waspada. Kewaspadaan perlu ditingkatkan dan difokuskan di kawasan- kawasan tertentu, terutama lahan gambut, yang banyak terdapat di Muaro Jambi dan Tanjung Jabung.
Selain itu satgas juga dapat menyelipkan program sekat kanal terutama dikawasan gambut yang rawan air, melihat lahan gambut sifatnya mudah terbakardan awet jika terbakar, sehingga butuh pasokan air yang banyak. (usn)

Sumber : Tribun Jambi (Cetak 17 juli 2016)