Juni 2015


17Juni 2015, 23 orang perwakilan  Masyarakat dari Desa Sponjen, Desa Tanjung dan Desa Sogo  Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi mendatangi Kantor Walhi Jambi.
Kedatangan perwakilan masyarakat 3 desa tersebut untuk berdiskusi dan juga menyerahkan mandat pendampingan  terkait dengan penguasaan dan pengelolaan lahan seluas kurang lebih 1200 ha, 
lahan tersebut saat ini dikuasai oleh salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit  PT. Bukit Bintang Sawit yang  juga menjadi suplier WILMAR GROUP.
Dalam pertemuan yang diadakan, Selain mendapatkan laporan dari 3 desa tersebut diatas, Direktur Eksekutif Walhi Jambi juga memberikan arahan terkait dengan peluang-peluang yang bisa digunakan masyarakat dalam hal mendapatkan kembali haknya.
Pukul 13.00 Wib, perwakilan masyarakat kemudian melanjutkan kegiatannya untuk melakukan audiensi bersama DPRD komisi 1 Provinsi Jambi dengan di dampingi oleh Mangaer Advokasi dan Kampanye Walhi Jambi Dwi Nanto.  


Aksi Bersama Organisasi Tani dan NGO Jambi terkait pembunuhan Aktivis Serikat Tani Tebo
Indra Pelani was energetic and inquisitive. After planting the fields, he often roamed the village with his camera to record life in Tebo, a district in the resource-rich Indonesian province of Jambi. Sometimes he would capture clashes between the local farming community and the plantation company that acquired the farmers' ancestral land in 2004. 

"Indra was a fast learner and a very good investigator," Abdoel Seberang, an activist from environmental NGO Walhi Jambi, told us as Indra's mother Nurhayana walked away, weeping with grief. "Indra was not formally schooled but he learned how to use the GPS and read coordinates to help us with mapping," Abdoel added. 

Dalam memperingati hari lingkungan hidup sedunia, Jumat (5/6), Walhi mengukur status lingkungan hidup yang ada di Jambi dalam beberapa instrument. Walhi menilai mutu lingkungan di Jambi saat ini kurang.
"Laju kerusakan hutan mencapai 871.776 hektare (ha) selama tiga tahun terakhir . Angka ini melebihi angka deforestrasi nasional yang mencapai 613 ribu hektar," Ungkap Musri Nauli Direktur Walhi Jambi.
Dalam catatan Walhi, ada tiga periodesasi menurunnya mutu lingkungan. Pertama adalah Penghancuran hutan untuk industri kehutanan (HPH dan HTI ). Kedua. Pembukaan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit . Ketiga Penghancuran hutan untuk pertambangan dimana dampaknya memutus mata rantai antara manusia dan alam.(*)


Reporter: Rendra Hariono
Editor: MoeZaffar

http://jambisatu.com/berita-walhi--mutu-lingkungan-hidup-saat-ini-masih-kurang.html

JAMBI - Memperingati Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada hari ini, Jumat (5/6), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi mengelar laungching status lingkungan hidup di Provinsi Jambi, di Kantor Walhi Jambi, Jalan Titian Lebak Bandung, Kelurahan Jelutung.


Dalam kesempatan tersebut, Musri Nauli, Direktur Walhi Jambi mengatakan, saat ini Provinsi Jambi sedang dalam kondisi memprihatinkan, dimana hutan-hutan dan lingkungan dalam kondisi rusak dan beberapa diantaranya dalam kondisi rusak permanen.




KILAS JAMBI - Memperingati hari lingkungan hidup nasional, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Jambi, menggelar aksi di Sungai Batanghari dengan membawa spanduk besar bertuliskan "Lindungi Air Sungai Batanghari Dari Pencemaran".
Eko Mulya Utomo, Koordinator Aksi dari Walhi mengatakan, aksi tersebut dalam  memperingati hari lingkungan hidup nasional yang jatuh pada hari ini. "Aksi ini atas dasar keprihatinan kami terhadap lingkungan di Jambi, khususnya air sungai Batanghari," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, saat ini lingkungan di Jambi ada 3 kerusakan. Pertama adanya pembukaan lahan sawit yang mengakibatkan berkurangnya hutan Jambi, selanjutnya adanya pembukaan lahan yang dilakukan oleh HTI dan selanjutnya tambang emas liar. "Kalau air sungai Batanghari ini limbah dari hulu," katanya.

"Keprihatinan ini kami tunjukan dengan mengajak masyarakat Jambi untuk menjaga lingkungan dengan membawa spanduk ini," katanya lagi.

Selanjutnya ia mengatakan, spanduk tersebut juga tujuannya untuk memberikan kesadaran masyarakat untuk saling manjaga air Sungai Batanghari agar tidak tercemar. Seperti dari pertambangan yang mengakibatkan pencemaran sungai.

Dalam hari lingkungan hidup ini, Walhi berpesan, kepada masyarakat untuk sama-sama saling menjaga lingkungan yang ada di Jambi dari segala bentuk yang kerusakan dan pencemaran.

"Bahwa sesuai data yang berhasil didapat, saat ini hanya diketahui sungai Batanghari tercemar karena jamban. Padahal karena perusahaan besar yang membuang limbahnya di sungai," jelasnya.

"Kalau lingkungan bersih dan sehat, untuk masyakat Jambi sendiri," tambahnya. (Kaharudin)
- See more at: http://kilasjambi.com/index.php/seputar-jambi/item/4541-walhi-jambi-pencemaran-sungai-batanghari-dari-limbah-perusahaan#sthash.eheDARSO.dpuf

http://kilasjambi.com/index.php/seputar-jambi/item/4541-walhi-jambi-pencemaran-sungai-batanghari-dari-limbah-perusahaan




JAMBIUPDATE.COM, JAMBI – Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Jambi mengibarkan spanduk besar di Pinggir Sungai Batanghari, Jumat (5/6). Ini merupakan salah satu cara Walhi mengungkapkan keprihatinannya dengan segala kerusakan lingkungan yang ada di Jambi.
Koordinator Aksi Walhi Jambi, Eko Mulya Utomo, mengatakan, ini merupakan salah satu cara Walhi memperingati Hari Lingkungan Hidup Nasional yang bertepatan pada tanggal 5 Juni ini.
Dengan peringatan ini kita harapkan masyarakat bisa lebih peka dengan keadaan lingkungan kita yang kian memprihatinkan” tegasnya.
Dalam spanduk yang dikibarkan ini Walhi menuliskan “Lindungi Air Sungai Batanghari dari Pencemaran”. Hal ini karena melihat air sungai Batanghari yang semakin kotor dan semakin tidak layak pakai.





http://www.jambiupdate.com/artikel-prihatin-kerusakan-lingkungan-di-jambi-yang-kian-parah-walhi-kibarkan-spanduk-di-sungai-batanghari.html

Untuk mengukur status lingkungan  hidup di Jambi dilakukan dengan berbagai instrument. Instrumen pertama digunakan adalah merujuk kepada UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU Lingkungan Hidup). Didalam mekanisme ini digunakan dengan istilah “daya dukung[1] dan daya tampung[2]” lingkungan hidup. Mekanisme ini merupakan salah satu bentuk “Tindakan pengaman akibat pembangunan yang berdampak kepada lingkungna hidup” (safe guard).

Instumen Kedua adalah membicarakan hak. Dengan mengukur instrument mutu lingkungan hidup berdasarkan HAM. Didalam pasal 28H ayat (1) UUD 1945 “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Ketiga. Mengukur instrument mutu lingkungan hidup berdasarkan pengetahuan  (scientific). Instrument yang digunakan dengna mengggunakan indeks udara, air dan tanah. Hasil pengukuran dari berbagai peristiwa memberikan penilaian dari lingkungan hidup dan cara beradaptasi masyarakat (mitigasi) menghadapi perubahan lingkungna hidup.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.