Februari 2015

Pada hari senin tanggal 16 Februari 2015 telah dilangsungkan diskusi tambang di Walhi Jambi. Diskusi dilatarbelakangi dengan kondisi memprihatinkan dengan derajat lingkungan hidup yang semakin menurun. Sementara pembukaan kawasan hulu Batangasai diberikan kepada perusahaan-perusahaan besar. Penghancuran kawasan hulu Sungai Batanghari melengkapi penguasaan tambang di Jambi.

Di satu sisi, kekayaan di sector tambang menimbulkan masalah lingkungna hidup. Jalan hancur. Permukaan tanah tercemar yang kemudian mengaliri sungai-sungai di hulu Batanghari. Korban berjatuhan.

Di sisi lain, sektor pertambangan  50 % areal tambang di Jambi belum tahap clean and clear. Belum lagi persoalan tambang di kawasan hutan lindung dan hutan konservasi.

Riau and Jambi are preparing efforts to prevent forest and land fires that have caused annual disasters in the provinces.

Acting Riau Governor Arsyadjuliandi “Andi” Rachman on Monday issued Gubernatorial Decree No. 5/2015 on forest and land fire mitigation and prevention action plans, which is aimed at freeing the province from the disasters that have been taking place for the past 17 years.

Witnessed by Environment and Forestry Minister Siti Nurbaya and National Disaster Mitigation Agency (BNPB) head Syamsul Ma’arif, the ordinance, which regulates the duties and responsibilities of relevant agencies in forest and land fire mitigation in Riau, Andi immediately handed tasks to the 12 regents and mayors in Riau.

“There are 16 actions plans that greatly require support from the relevant stakeholders at the central, provincial, regency and mayoralty levels, including from the private sector,” said Andi.

TRIBUNJAMBI.COM - Tahun lalu ada 141 IUP yang dilaporkan oleh KPK. Laporan pencabutan sudah terlihat, namun hal tersebut belum memastikan apakah kegiatan tambang benar-benar sudah berhenti atau masih beraktivitas.
“Kita belum tahu,” kata Musri Nauli, selaku Direktur Walhi Jambipada Rabu (18/2).
Edo yang sudah sejak pagi berada di Sekretariat Walhi Jambimemikirkan dan menumpahkan pandangannya soal bagaimana kondisi pertambangan saat ini.  Ia melihat masyarakat tidak dilibatkan saat tahap pra-tambang dan itu menyebabkan munculnya konflik sosial di sekitar tambang tersebut.

JAMBI – Executive Director of Wahana Linkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi Province, Musri Nauli said, in the Wetland Forest and Area Study, in Village of Sungai Bungur, Kumpehilir, District of Muarajambi, Jambi Province, Monday (2/1) revealed that, there are at least 350.000 hectares of wetland forest massively broken. The demaged wetland forests nearly reach 50% from 700.000 hectares area of wetland forests in the regions.

Quoting from Suara Pembaruan, the width of the broken wetland forest happened for the conversion or functional changes of the wetland forest to be plantation and industrial plantation forest and the fire happening in every dry season.

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Memperingati hari lahan basah sedunia pada 2 Februari lalu Walhi Jambi mengadakan konferensi pers. Dalam konferensi pers tersebut, Musri Nauli Direktur Walhi Jambi memaparkan keadaan makro gambut atau lahan basah di Jambi.
"Keadaan lahan gambut di Jambi sudah kritis, bisa di atas 50 persen. Akses sudah sulit karena Desa Sungai Bungur misalnya sudah dikepung perusahaan dan Taman Nasional Berbak," katanya.
Hal ini bisa dilihat dari kebakaran yang muncul dari lahan gambut,atau kerusakan-kerusakan ekologi yang terjadi di lokasi tersebut. (*)

http://jambi.tribunnews.com/2015/02/03/lebih-50-persen-lahan-gambut-di-jambi-sudah-kritis


Liputan6.com, Jambi - Wahana Linkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Jambi menyatakan, 50 persen lahan gambut di Provinsi Jambi dalam kondisi kritis akibat kebakaran dan alih fungsi hutan.

Direktur Ekskutif Walhi Jambi, Musri Nauli menyebutkan, luas lahan gambut di Jambi mencapai 700 ribu hektar lebih. Jumlah itu membentang di tiga kabupaten yakni Muarojambi,Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dan Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.