Desember 2014





TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Minggu (28/12), delapan direktur Walhi sesumatera melakukan orasi lingkungan.
Mereka berorasi mengenai rusaknya lingkungan sepanjang tahun. Mereka berorasi pada malam terakhir pekan akhir tahun Walhi pada Minggu (28/12) malam.
Delapan direktur tersebut berasal dari Lampung, Bengkulu, Sumsel, Jambi, Sumbar, Sumut, Riau dan Bangka Belitung.
"Walhi jambi mengimbau melakukan perlawanan perusahaan penyebab munculnya merkuri di hulu sungai," seru Musri Nauli yang berorasi terakhir. (*)



http://jambi.tribunnews.com/2014/12/28/walhi-akan-lawan-perusahaan-pembuang-merkuri-ke-sungai


TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sabtu (27/12) dalam rangkaian pekan akhir tahun Walhi mengadakan seminar tentang ketahanan pangan lokal. Dalam diskusi tersebut hadir pula Irmansyah, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi.
Dalam gilirannya memberikan materi ia menceritakan beberapa minggu sebelumnya ada perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) mengajukan izin. Irman mengatakan dinas kehutanan menolak.
"Beberapa waktu ke depan kita menolak izin masuknya beberapa perusahaan," ungkapnya. (*)

http://jambi.tribunnews.com/2014/12/27/irman-kita-tidak-menerima-hti-dulu


KEDAULATAN PANGAN MENUJU KEADILAN EKOLOGI
(Refleksi Setahun Status Lingkungan Hidup di Jambi)
Walhi Jambi

Tahun 2014, tidak dapat dilupakan begitu saja. Kabut asap merupakan persoalan klasik yang terus berulang setiap tahun.

Padahal Walhi sudah mengingatkan terulangnya kabut asap setelah tahun 2013, Walhi meminta pertanggungjawaban negara dengan menggugat Pemerintah dari Presiden, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kapolri, Gubernur Riau dan Gubernur Jambi serta kepala Daerah Tanjungjabung Timur dan Tanjung Jabung barat dan 11 Kepala daerah di Propinsi Riua.

Jambi, 19 Desember 2014 
    
Sebuah laporan baru dari Forest Peoples Programme dan mitra-mitra LSM Indonesia mengungkapkan sejumlah konflik sosial yang belum tuntas di sektor hutan tanaman industri milik sebuah perusahaan Indonesia yang ternama, yang berkomitmen ‘Tak ada Deforestasi’. Laporan tersebut merinci proses yang cacat dalam penyelesaian konflik perampasan tanah- tanah milik masyarakat oleh perusahaan pulp dan kertas, Asia Pulp and Paper di Sumatra, untuk dijadikan perkebunan hutan tanaman industri bubur kertas. APP adalah perusahaan milik konglomerat tersohor Sinar Mas, berpusat di Jakarta.   

Berikut adalah apa yang dikatakan Patrick Anderson, Penasihat Kebijakan Forest Peoples Programme, yang memimpin survei di Provinsi Jambi, Sumatra :

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.