Pastikan Penanganan Konflik Lingkungan dan SDA, Walhi Temui Kapolri



Mengantisipasi kemungkinan peningkatan konflik Lingkungan dan SDA tahun 2016 pascaPilkada dan Pemilu,  Wahana Lingkungan Hidup (WALHImenyambangi Mabes PolriPertemuan dilakukan untukpencegahankarena berdasarkan pengalaman dan temuan ada relasi yang kuat antara momentum politik denganpenerbitan izin yang diikuti dengan konflik dan kebakaran hutan.
Direktur WalhiAbetnego TariganJumat (8/1) mengatakanikut hadir dari Walhi diantaranyaZenzi Suhadi Managerkampanye Hutan dan Perkebunan WALHIMukri Friatna Manager Disaster, Musri Nauli Direktur Eksekutif WALHIJambiserta Sinung dan Arifin Monang Soleh dari AMAN.

Rombongan diterima Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pukul 08.45 WIB di Ruang Tamu KapolriDalam Pertemuan iniWALHI dan Masyarakat Adat menyampaikan beberapa poin yang menjadi konsentrasi aktivis lingkunganBeberapapoindiantaranya Polri memastikan petugas – petugas di lapangan hingga tingkat polsek mengedepankan upayapendalaman non legal formal dan legal formal terhadap laporan konflik SDAsehingga dapat menjawab praktik danjebakan kriminalisasi.
Kasus-kasus masyarakat di dalam kawasan hutanharus diutamakan pada penyelesaian oleh kementrian terkaitdan menjauhkan pendekatan represhipAdanya mekanisme dan unit/desk khusus di Mabes Polri yang terkordiniruntuk menangani laporan masyarakat terkait agrariasumber daya alam dan lingkungan hidup.
Adanya forum dialog antara OMS di tingkat nasional dan daerah untuk menjawab problem struktural konflikSumber Daya Alam dan Lingkungan Hidupserta perlu ada terjemahan yang jelas terhadap pernyataan presidententang penghentian kriminalisasi terhadap MA pada peringatan hari HAM yang lalu.
KapolriJendral Polisi Badrodin Haiti yang didampingi Kabareskrim Komjen Anang IskandarWakaBaharkam,Direktur Intel, Wakil Asisten Operasi KapolriAjudan Kapolrijuga menyampaikan pandangannya.
Menurut kapolriada situasi bahwa petugas lapangan yang memang dididik pada penanganan berbasiskan legal formal. Pengetahuan dan kapasitas personil di lapangan atas bentuk dan varian kasus mestinya lebih fahamterhadap situasi.
Kapolri juga menegaskan bahwa tugas jajaran kepolisian di daerah konflik adalah mencegah adanya tindakankekerasan antar kedua belah pihaksehingga diharapkan kepada Organisasi Pendamping Masyarakat untukmenghindari situasi warga terpancing melakukan tindakan kekerasankarena Polisi harus merespon
Kapolri juga mengharapkan institusi yang berwenang atau kementerian terkait untuk proaktif menyelesaikan akar persoalan. Untuk itu, Polri di tahun 2016 mengagendakan proses dialog antar pihakdan agenda ini diaharapkandapat menjadi jawaban permintaan Walhi soal forum dialog masyarakat sipil dengan Polri(jal)

Sumber : Kominfo Jatim

Posting Komentar

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.