Mereka Suarakan Peduli Iklim Lewat Seni


Pohon masalah yang begitu banyak di Indonesia, membuat rentan terhadap kelestarian lingkungan. Berbagai masalah ini bisa mendorong perubahan iklim. Warga yang datang ke Climate Art Day, bisa mengisi daun-daun atau buah masalah yang mereka alami atau mereka ketahui. Foto: Sapariah Saturi
“Hukum adalah lembah hitam, tak mencerminkan keadilan. Pengacara juri hakim jaksa masih ternilai dengan angka. Uang ! Hukum telah dikuasai oleh orang orang ber-uang. Hukum adalah permainan tuk menjaga kekuasaan. Maling maling kecil dihakimi. Maling maling besar dilindungi.”
Lagu berjudul Hukum Rimba ini dinyanyikan Band Marginal, di Taman Hutan Manggala Wanabhakti, Jakarta, dalam acara Climate Art Day, Sabtu sore (12/12/15).

Lagu ini mengingatkan kepada beragam kriminalisasi dan kasus-kasus yang menimpa pegiat lingkungan maupun warga kala mereka mempertahankan lahan hidup. Ataupun warga yang hidup di sekitar dan di dalam hutan yang berkonflik dengan perusahaan maupun pemerintah. Mereka ditangkap, dipenjara bahkan mengalami luka hingga tewas. Hukum yang menyasar orang-orang kecil ini tersampaikan apik dalam lagu Hukum Rimba ini.
Tak hanya Marginal. Ada Jamaica Cafe, Aray Daulay & Didit Saad, Iksan Skuter, Kojek Rap Betawi hingga Melanie Subono. Lagu-lagu yang mereka bawakan bertemakan pesan penting menjaga lingkungan sekaligus peduli perubahan iklim. Di sela nyanyian, para musisi itu mengajak masyarakat melakukan sesuatu mulai dari hal kecil.
Band Marginal, yang membawakan lagu-lagu kritikan sosial dan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Foto: Sapariah Saturi
Band Marginal, yang membawakan lagu-lagu kritikan sosial 
dan lingkungan yang terjadi di Indonesia.
Di bagian lain, seniman Andreas Iswinarto memamerkan lukisan-lukisan bertema alam, sumber daya alam dan kerusakan lingkungan di negeri ini. Ada sekelompok pemuda memamerkan cara sablon dengan metode Cukil Taring Babi. Cara sablon unik dengan menggunakan kayu limbah. Ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan berbahaya.
Iksan Skuter, mengatakan, kampanye mengajak masyarakat peduli perubahan iklim melalui seni, salah satu musik, sangat efektif. Dia bercerita pengalaman saat mengkampanyekan penyelamatan hutan Kota Malabar di Malang melalui karya musik.
“Sebernarnya kalau dibandingkan kasus-kasus kerusakan lingkungan lain, hutan Kota Malabar tak ada apa-apanya. Luas hanya 16 hektar, tetapi itu hutan kota terakhir di Malang.”
Pengunjung tengah menikmati dan mengamati karya lukis Andreas Iswinarto di ajang Climate Art Day. Foto: Indra Nugraha
Pengunjung tengah menikmati dan mengamati 
karya lukis Andreas Iswinarto di ajang Climate Art Day
Malang, katanya, merupakan kota di atas gunung. Jika tak ada hutan, ibarat beli bakso hanya dapat kuah. Jadi, mesti kecil hutan Malabar, harus dipertahankan.
Iksan memformulasikan seni menjadi media penyampai pesan sangat efektif karena bisa didengar banyak orang.
Begitu juga cerita Suryadi Darmoko, Direktur Eksekutif Walhi Bali yang aktivis ForBali dalam memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa.
“Kami bersama musisi, mahasiswa, pemuda adat menginisiasi pergerakan. Ini puncak es. Perlawanan-perlawanan seperti ini dibangun sejak 2012,” katanya.
Sebelumnya, jika ada aksi lingkungan yang turun paling 20 orang. “Sekarang, didorong teman-teman musisi,seniman dan pemuda adat, gerakan tolak reklamasi jadi gerakan lingkungan terbesar di Bali. Sekarang dalam setiap aksi yang turun setidaknya 1.000 orang.”

Hal itu, katanya, membuktikan peran musisi dalam mengkampanyekan penyelamatan lingkungan sangat efektif. Di Bali, salah satu musisi yang getol menolak rencana reklamasi Teluk Benoa adalah Superman is Dead. Ini diikuti para pengemarnya.
“Masa yang turun ke jalanan selalu mengaku sebagai fans base salah satu musisi.” Dia berharap, semangat berkampanye melalui seni musik bisa ditularkan ke daerah lain.
Diskusi soal berbagai maslaah di lapangan, seperti reklamasi Teluk Benoa, Hutan Kota Malabar yang jika dijalankan akan memperburuk perubahan iklim. Sampai pada kearifan-kearifan masyarakat lokal maupun masyarakat adat menjaga hutan (alam) di Jambi, yang bisa memberikan kontribusi menekan percepatan perubahan iklim. Foto: Sapariah Saturi
Diskusi soal berbagai masalah di lapangan, seperti reklamasi Teluk Benoa, Hutan Kota Malabar yang jika dijalankan akan memperburuk perubahan iklim. Sampai pada kearifan-kearifan masyarakat lokal maupun masyarakat adat menjaga hutan (alam) di Jambi, yang bisa memberikan kontribusi menekan percepatan perubahan iklim. Foto: Sapariah Saturi
Sablon Cukil Taring Babi, yang menyajikan sablon dengan pesan-pesan soal lingkungan, seperti Stop Eksploitasi Hutan, Renewable Energy Save Our Future dan lain-lain. Foto: Sapariah Saturi
Sablon Cukil Taring Babi, yang menyajikan sablon dengan pesan-pesan soal lingkungan, seperti Stop Eksploitasi Hutan, Renewable Energy Save Our Future dan lain-lain.
Stop monopoli hutan. Foto: Sapariah Saturi
Stop monopoli hutan
Sumber : www.mongabay.co.id

Posting Komentar

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.