Produk Perusahaan Pembakar Lahan Diminta Diboikot

 
Personel TNI dibantu relawan memadamkan kebakaran lahan gambut di Rimbo Panjang, Kampar, Riau, 8 September 2015. Jumlah titik panas yang diindikasikan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera mulai menurun. Satelit Tera dan Aqua hanya memantau 39 titik panas di wilayah tersebut. Jauh lebih kecil dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 413 titik. ANTARA/Rony Muharrman

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi melakukan kampanye ke sejumlah pasar pembeli produk hasil perkebunan. Mereka meminta konsumen tidak membeli produk, baik perkebunan hutan tanaman industri maupun sawit, yang diduga melakukan pembakaran lahan dan mengabaikan kelestarian lingkungan. “Kami secara diam-diam melakukan kampanye langsung ke pasar. Produk perkebunan dari lima grup perusahaan besar di Provinsi Jambi diduga mengabaikan kelestarian lingkungan dan melakukan pembakaran lahan,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jambi Musri Nauli saat dihubungi Tempo, Senin, 12 Oktober 2015.


Menurut Walhi, lima grup perusahaan yang diduga melanggar itu antara lain APP (Sinar Mas Group). Musri berujar, Walhi beberapa kali melakukan pertemuan dengan beberapa pihak, antara lain pemerintah Singapura. Dari pertemuan itu, diperoleh tanggapan positif bahwa konsumen di Singapura sudah menyatakan tidak akan membeli hasil produksi dari lima grup perusahaan itu. “Tak ke hanya Singapura, tapi kami juga melakukan hal sama ke negara lain sebagai penampung produk dari perusahaan tersebut,” ucap Musri.

Adapun Taufiqurrahman, juru bicara PT Wirakarya Sakti (Sinar Mas Group), salah satu perusahaan perkebunan tanaman industri, menuturkan pihaknya melaksanakan usaha sudah sesuai dengan prosedur. PT Wirakarya Sakti menguasai lahan terluas di Provinsi Jambi, yaitu 390 ribu hektare. Taufiqurrahman membantah bahwa perusahaannya melanggar prosedur pengolahan lahan. “Kami pun akan mempelajari di mana letak kesalahan yang dimaksud,” katanya.

Dalam kasus kebakaran lahan, jajaran Kepolisian Daerah Jambi telah menetapkan 31 tersangka yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan. “Sebanyak 27 tersangka perorangan dan empat tersangka dari korporasi,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Jambi Bigadir Jenderal Lutfi Lubihanto.

Lutfi menyatakan empat perusahaan tersebut merupakan perusahaan perkebunan sawit, yakni PT DHL di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, PT RKK (Kabupaten Muaro Jambi), PT AT (Tanjung Jabung Timur), dan PT TAL (Kabupaten Tebo).

Menurut Lutfi, Polda Jambi menerima laporan dari Dinas Perkebunan Provinsi Jambi bahwa ada 46 perusahaan perkebunan, baik sawit maupun hutan tanaman industri, yang lahannya terbakar. Sebanyak 25 perusahaan di antaranya telah diselidiki. Kini, ucap Lutfi, delapan perusahaan sudah ditingkatkan pengusutannya, dari penyelidikan ke penyidikan. “Dari semua itu, satu kasus berkas perkaranya sudah kita limpahkan ke kejaksaan, sementara sisanya sudah kita laporkan dalam tahap mulai penyidikan,” tuturnya.

SYAIPUL BAKHORI

Posting Komentar

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.