Petani Sawit Ancam Golput


JAMBI – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit di Jambi terus saja memancing gejolak di kalangan petani. Kemarin (10/11) ratusan petani dari berbagai daerah di Provinsi Jambi berunjuk rasa ke gedung DPRD Provinsi Jambi.

Aksi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka bergerak dari simpang tiga depan Unja Telanaipura. Mereka membawa sejumlah spanduk bertuliskan sejumlah tuntutan. Jika tak dipenuhi, petani mengancam tak mau memilih alias golongan putih pada Pemilu 2009.

Para petani itu berasal dari sembilan kabupaten dalam Provinsi Jambi. Dari anak-anak, tua-muda, lelaki-perempuan, mereka bergerak rapi menuju Kantor DPRD Provinsi Jambi.

Tiga orator terlihat berdiri di atas speaker besar yang dibawa mobil pick-up warna hitam. “Petani siap menjadi golput pada Pemilu 2009 jika pemerintah tidak mau menaikkan harga TBS!” ujar Darto, aktivis Walhi, membakar massa kemarin siang.

Teriakan itu disambut yel-yel setuju dari ratusan petani. Bahkan petani sempat pula menimpali betapa kondisi saat ini amat menyulitkan mereka. “Merdeka!” teriak Darto. “Belum!” jawab petani serentak.

Sebagian pendemo kemarin tidak menganggap anjloknya harga TBS disebabkan krisis global. Itu semata dipicu kesemrawutan tata kelola perkebunan, mulai dari sektor penguasaan, kedaulatan, dan kemandirian petani sawit.
Itu terjadi, menurut mereka, karena kebijakan pemerintah yang tidak adil sehingga mengakibatkan monopoli perusahaan perkebunan skala besar.

Gugatan petani yang berunjuk rasa di gedung dewan itu di antaranya menuntut agar pemerintah bisa menaikkan harga TBS sawit, menurunkan harga pupuk sekaligus menjamin ketersediaan serta distribusi pupuk hingga petani, menghapus utang petani sawit dalam pola kemitraan, menghapus dan mencabut izin pembukaan kebun sawit skala besar, optimalisasi produksi kebun sawit milik rakyat, dan redistribusi kebun inti kepada petani.

Selain itu, petani juga minta konflik antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan besar bisa diselesaikan pemerintah, mengalihkan subsidi pajak ekspor CPO kepada pendidikan anak petani dan kesehatan keluarga petani, serta menghentikan proses kriminalisasi terhadap gerakan petani.

Petani tak lupa meminta kedaulatan petani sawit di sektor hulu perkebunan, melibatkan petani sawit dalam setiap pembuatan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan petani, melibatkan petani sawit dalam program revitalisasi perkebunan.

Terakhir, petani minta segera dibangunkan pabrik mini untuk petani mandiri dan minta dilakukan audit pabrik CPO milik perusahaan besar serta pemberdayaan koperasi milik petani. “Kita minta harga dinaikkan. Harga sekarang menyulitkan petani. Pemerintah tidak berpihak pada petani,” ujar orator lain menggebu-gebu.

Aksi massa akhirnya berakhir sekitar pukul 14.30 WIB. Meski disambut Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jambi Mirza Ansori, petani merasa tidak puas. Setelah beristirahat makan, seorang petani menyatakan bahwa mereka akan bergerak ke Mapolda Jambi.
“Ada petani yang ditangkap di Polda. Kita minta dikeluarkan,” ungkap seorang wanita yang mengaku petani dari Kabupaten Sarolangun, jelang masuk ke dalam mobil bus IMI, sore kemarin.
Gubernur Akan Panggil PKS yang Tak Beli Sawit

Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin saat dikonfirmasi via ponsel ajudannya kaget begitu tahu ada pemilik pabrik kelapa sawit (PKS) yang tidak membeli TBS petani, seperti diberitakan beberapa hari lalu. “Wah, apa iya. Segera kita akan panggil pengusaha itu,” ujar Bang Zul—sapaan Zulkifli Nurdin—tegas. Tapi, katanya, kalau alasan pengusaha itu tepat, misalnya tidak mampu menjual CPO, akan dipertimbangkan.

Menyoal aksi unjuk rasa yang melibatkan ratusan petani di gedung DPRD Provinsi Jambi kemarin, Bang Zul menyayangkan hal itu terjadi. Apalagi kondisi itu bukan saja dialami Jambi, tetapi seluruh dunia.
Kalaupun meminta bantuan, pemerintah harus minta bantuan kepada siapa. Semua daerah juga sedang mengalami kesulitan ekonomi gara-gara krisis global ini.

Yang jelas, kata Bang Zul, tugas pemerintah adalah berbuat semaksimal mungkin untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Soal harga TBS sawit, sudah dibuat berdasarkan kesepakatan semua pihak, baik pengusaha sawit maupun petani sawit, lewat pembahasan di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi.

Menurunnya harga dari Rp 892 per kilogram menjadi Rp 692 per kilogram, sudah berdasarkan harga CPO dunia yang kian hari kian menurun. Walaupun beberapa hari ini terdengar kabar bahwa harga CPO mulai merangkak naik, tetapi diyakini belum bisa menjamin. “Kita khawatir ini sifatnya temporer,” jelas Bang Zul.

Soal permintaan mendirikan pabrik mini, mungkin hanya satu yang paling bisa dilakukan pemerintah. Kata Bang Zul, dia memang sudah berpikir untuk membantu petani menjual TBS lewat pendirian pabrik mini.

Tetapi untuk merealisasikan rencana pendirian pabrik mini, dia berjanji akan menemui Menteri Perindustrian dan Dirjen Perkebunan dalam waktu dekat. “Saya akan ke Jakarta membahas soal pabrik mini ini,” jelas pentolan Partai Amanat Nasional (PAN) Jambi itu semangat.
Menanggapi kian panasnya suasana akibat kondisi anjloknya harga TBS sawit, Bang Zul meminta masyarakat tetap tenang dan bersabar. Apalagi saat ini bukan hanya petani yang dilanda kesusahan. Perusahaan sawit pun demikian.

Bahkan sepengamatan langsung dirinya, di satu wilayah Kabupaten Sarolangun ada pabrik kelapa sawit yang membakar TBS akibat tidak tertampung lagi. Jumlah sawit yang dibakar itu berkisar ratusan ton. “Waktu terbang (naik helikopter) pulang dari Sarolangun ke Jambi, saya melihat sendiri ada TBS yang dibakar, ratusan ton. Saya minta terbang rendah, lalu saya minta istri saya (Ratu Munawaroh, red) untuk moto (memotret, red). Fotonya ada pada saya, besok saya tunjukkan,” janjinya.(nas/lyn)

Sumber : Jambi independent, 11 november 2008

Posting Komentar

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.